Bisnis

[Bisnis][bsummary]

Lowongan Kerja

[Lowongan Kerja][bigposts]

Otomotif

[Otomotif][twocolumns]

Pengertian Herd Immunity Dan Apa Resikonya?

Herd Immunity

Herd Immunity atau disebut dengan kekebalan kelompok mulai diwacanakan sebagai salah satu solusi untuk menghentikan penyebaran virus corona pada bulan Maret silam. Herd immunity mengacu kepada situasi di mana cukup banyak orang dalam sebuah populasi yang memiliki kekebalan terhadap infeksi sehingga dapat secara efektif menghentikan penyebaran penyakit tersebut. Kekebalan tersebut dapat berasal dari vaksinasi atau dari orang yang menderita penyakit tersebut.

Baca Juga : Manfaat Kayu Manis Untuk Kesehatan

Dilansir Business Insider (20/3/2020), untuk membatasi penyebaran campak misalnya, para ahli memperkirakan 93-95 persen dari populasi perlu kebal. Campak lebih menular daripada virus corona baru atau Covid-19. Para ahli memerkirakan untuk menghentikan penyebaran virus corona sebanyak 40-70 persen dari populasi perlu kebal. Sementara itu herd immunity juga bisa dihentikan dengan menggunakan vaksinasi. Sayangnya saat ini masih belum tersedia vaksin untuk virus corona. Para ahli memperkirakan dibutuhkan waktu sekitar 18 bulan untuk dapat mengembangkan vaksin virus corona. Ini juga dapat dicapai secara alami karena ketika orang yang terinfeksi kemudian pulih, dia akan kebal terhadap infeksi. Ini berfungsi jika kemungkinan infeksi ulang rendah atau idealnya nol.

Baca Juga : Makanan Penambah Stamina Tubuh

Di China sendiri tengah dilakukan penelitian seberapa banyak orang terinfeksi ulang. Beberapa menunjukkan bahwa ada orang-orang yang bisa terinfeksi lagi setelah mereka sembuh. Ahli biostatistik di University of Florida spesialis penyakit menular Natalie Dean mengatakan satu-satunya cara aman mendapatkan herd immunity adalah dengan vaksin. Sementara itu cara lain di atas terlalu berisiko.

Resiko Penerapan Herd Immunity


1. Minim Informasi


Saat ini masih belum jelas seberapa menular virus corona baru ini dan seberapa parah itu dapat mempengaruhi demografi yang berbeda. Dikutip dari Independent (3/3/2020), juru bicara WHO Margaret Harris menyatakan ilmuwan belum cukup tahu tentang ilmu virus tersebut dan belum cukup lama di populasi manusia. Sehingga para ilmuwan belum bisa memastikan apa yang dilakukan virus corona terhadap imunitas tubuh. Termasuk kemungkinan seseorang yang sudah sembuh bisa menularkan penyakitnya lagi. Jika hal ini terjadi herd immunity tidak dapat bekerja.

2. Resiko Kematian


Dengan membuat banyak orang yang terinfeksi, kemungkinan meningkatnya angka kematian juga akan tinggi. Misalnya diambil 70 persen dari jumlah total populasi untuk sengaja diinfeksi. Dari jumlah tersebut tidak semuanya berusia muda. Ada juga orang tua. Padahal orang tua termasuk golongan rentan. Menurut WHO, orang tua atau orang dengan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya, seperti diabetes atau kanker paru-paru rentan terinfeksi oleh virus corona. Orang tua atau lansia berisiko sakit parah jika terinfeksi. Hal itu karena kekebalan mereka yang lebih rendah dibanding kelompok usia lainnya.

Dilansir dari Science Alert (30/3/2020), perkiraan tingkat kematian infeksi Covid-19 sekitar 0,5-1 persen. Jika 70 persen dari seluruh populasi jatuh sakit, itu berarti bahwa antara 0,35-0,7 persen dari setiap orang di suatu negara bisa mati akibat bencana.

3. Menjadi Penyakit Musiman


Menurut Koresponden Kesehatan The Independent Shaun Lintern, saat ini tidak ada peluang kekebalan terhadap kawanan virus corona. Sebagai virus baru, tidak ada yang memiliki kekebalan terhadapnya. Sehingga setiap manusia rentan terhadap virus. Herd Immunity hanya akan berlaku setelah sebagian besar orang memilikinya dan bertahan hidup sehingga tubuh mereka menciptakan antibodi terhadap virus. "Ada juga risiko virus corona menjadi musiman seperti flu yang akan bermutasi setiap musim. Karena itu herd immunity tidak bisa ikut bermain," ujar Lintern.

4. Diperlukan Kesiapan Medis


Saat ini berbagai negara tengah melaporkan kekurangan Alat Pelindung Diri (APD) dan kekurangan ruang untuk merawat pasien di rumah sakit. Jika semakin banyak orang yang terinfeksi di suatu negara, maka perlu kesiapan medis juga. Negara-negara miskin seperti di Afrika akan sangat terpukul, karena tidak dapat memenuhinya jika menjalankan skenario herd immunity. Dilansir Science Alert, dengan perkiraan sekitar 10 persen saja dari total populasi dirawat di rumah sakit, itu akan berimplikasi besar bagi negara.

Sumber :kompas.com