Pembangkit Listrik Swedia Dari Sampah - Info Serba Ada

Breaking

Sabtu, 01 Juli 2017

Pembangkit Listrik Swedia Dari Sampah

Pembangkit Listrik Swedia Dari Sampah

Swedia mengimpor 800 ribu ton sampah per tahun dari negara-negara tetangganya di Eropa. Mayoritas sampah ini berasal dari Norwegia. Sampah-sampah ini sekaligus untuk memenuhi program sampah menjadi energi di Swedia. Dengan tujuan utama mengubah sampah menjadi energi panas dan listrik.

Sedangkan bagi Swedia, mengimpor sampah adalah pemikiran maju dalam hal efisiensi dan suplai energi bagi kebutuhan manusia. Membakar sampah dalam insinerator mampu menghasilkan panas. Di mana energi panas ini kemudian didistribusikan melalui pipa ke wilayah perumahan dan gedung komersial. Energi ini juga mampu menghasilkan listrik bagi rumah rakyatnya.

Pembangkit listrik berbahan bakar sampah ini telah memasok kebutuhan panas bagi 950.000 rumah tangga dan memenuhi kebutuhan listrik bagi 260.000 rumah tangga di seluruh Swedia.

Kebijakan pemerintah dan budaya masyarakat yang mengerti arti kebersihan dan energi, membuat Swedia menjadi negara maju dalam pengelolaan sampah. Dalam data statistik Eurostat, rata-rata jumlah sampah yang menjadi limbah di negara-negara Eropa adalah 38 persen. Swedia berhasil menekan angka itu menjadi hanya satu persen.

Swedia dikenal memiliki manajemen sampah yang baik. Mayoritas sampah rumah tangga di negara Skandinavia itu bisa didaur ulang atau digunakan kembali. Satu-satunya dampak negatif dari kebijakan ini adalah Swedia kini kekurangan sampah untuk dijadikan bahan bakar pembangkit energinya.

Dalam menjalankan prinsip program waste-to-energy, pemerintah Swedia selalu mengkampanyekan prinsip reduce, reuse, recycling, recycling alternatives energy dan landfill. Prinsip ini merupakan pemilahan sampah yang masih bisa digunakan, didaur ulang dan diperbaiki sebelum diubah energi alternatif.

Selain menyiapkan fasilitas, Swedia juga membuat sejumlah peraturan yang mendukung pemanfaatan energi alternatif ini. Misalnya, peraturan botol yang sudah berlaku sejak 1990. Pemerintah mengharuskan pabrikan botol bertanggung jawab atas sampah botol yang telah disebar di pasaran.

Selain menghasilkan energi panas dan listrik dari sampah, abu dari hasil pembakaran sampah juga dijadikan bahan pembuatan baja di Swedia.