Pulau Cantik Yang Terpencil Di Kepulauan Seribu - Info Serba Ada

Semua informasi mengenai lowongan kerja, bisnis online, peluang usaha, kesehatan, pariwisata, kuliner, otomotif, tutorial, nonton film online dan juga info lainnya

Breaking

Rabu, 26 Oktober 2016

Pulau Cantik Yang Terpencil Di Kepulauan Seribu


Kepulauan Seribu adalah gugusan pulau yang paling jadi favorit wisatawan Jakarta dan sekitarnya. Di antaranya banyak pulau di sana, ada satu yang paling cantik, masih perawan dan berada di paling utara: Pulau Sebira.

Pulau Sebira atau yang juga disebut Pulau Sebira berada pada kordinat 05°12′18.5″S 106°27′39.4″E (lihat peta satelit), adalah pulau paling utara di Kabupaten Kepulauan Seribu, makanya kerap disebut sebagai “Pulau Penjaga Utara”. Pulau ini tepatnya berada di Kelurahan P. Harapan, Kecamatan P. Seribu Utara, Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta.

Berada paling jauh dari garis pantai Jakarta inilah yang membuatnya jarang dikunjugi wisatawan. Hasilnya, jadilah Pulau Sebira masih ‘perawan’ sampai saat ini. Walau terlihat keindahan alamnya masih perawan karena jarang sekali ada wisatawan, namun disana sudah ada penduduknya yang berjumlah 1.000 warga.


Awal penduduk di Pulau Sebira hanya berjumlah 22 jiwa yang sebelumnya merupakan warga Pulau Genteng Besar. Sebenarnya, penduduk di Pulau Genteng Besar diberikan ganti rugi untuk berpindah ke Pulau Pemagaran pada tahun 1975 itu. Namun mereka menolak dan lebih memilih untuk pindah ke Pulau Kelapa Dua dan Pulau Sebira.

Jadi para nelayan terbagi dua. Ada yang ke Pulau Kelapa Dua, dan ada yang ke Pulau Sebira. Sebelumnya kita diberi pulau yaitu Pulau Pemagaran pada tahun 1975 tapi warga tak ada yang mau, menurut warga di situ kurang bagus dan tidak ada potensi besar untuk kehidupan karena tidak adanya ikan, sehingga mereka tidak ada tangkapan sehari-hari, oleh sebab itulah akhirnya para nelayan pindah ke Pulau Sebira.

Warga Pulau Sebira terkenal jago membuat ikan asin dan memang terkenal enak. Biasanya, nanti ikan asin itu akan dibawa warga Pulau Sebira ke Jakarta untuk dijual setiap seminggu sekali. Sebab kapal dari Pulau Sebira ke Pelabuhan Kamal Muara di Kecamatan Kamalmuara, Jakarta Utara, cuma beroperasi seminggu sekali.

Semua itu berlaku karena pulau ini adalah pulau paling jauh dari daratan Jakarta. Dari Pelabuhan di Kamal Muara, Pulau Sebira berjarak enam jam perjalanan. Dari Pulau Harapan sekitar tiga jam. Bahkan letak pulau ini lebih dekat ke Lampung, hanya satu jam perjalanan saja.

Sekitar tahun 1984 Pemerintah Bandar Lampung pernah datang ke sini dan menawarkan untuk berpindah kependudukan dari DKI Jakarta menjadi penduduk Bandar Lampung. Bupati, Kapolres, Danramil Lampung sudah datang kesana, tapi warga tetap tak mau karena hasil tangkapan mereka dijual ke Muara Angke dan Kamal Muara di Jakarta, selain itu mereka juga sudah memiliki KTP DKI Jakarta.

Kini, seluruh penduduk Pulau Sebira berprofesi sebagai nelayan dan usaha pengasinan ikan (ikan asin). Pulau tersebut memiliki jumlah penduduk 523 jiwa yang kebanyakan dari mereka berasal dari Bugis, Sulawesi Selatan. Namun, kehidupan penduduk di Pulau Sebira tidak tertinggal jauh dari penduduk yang berada di daratan. Walaupun jauh dari daratan, kehidupan di sana sangat erat dan dipimpin oleh satu Ketua Rukun Warga (RW) dan 4 Rukun Tetangga

Akses Menuju Pulau Sebira


Keberadaan pulau ini memang nampak menyendiri di perairan Laut Jawa. Luasnya berkisar 9 hektar saja. Dari ibukota Jakarta, jaraknya kurang lebih 100 km. Letaknya berada di barat laut Jakarta. Jangan bayangkan jaraknya, karena perjuangan saat menempuhnya akan terbayar ketika sudah sampai di Sebira.

Kalau Anda berangkat dari Dermaga Marina Ancol, Jakarta Utara, biasanya diperlukan waktu 2 hingga 3 jam dengan mengendarai perahu cepat 750 speed horse. Sedangkan kalau mengendarai perahu nelayan yang hanya bermesin 250 speed horse, akan menempuh perjalanan selama 9 hingga 10 jam.

Anda bisa menuju Pulau Pramuka dari Dermaga Marina. Angkutan reguler berupa perahu cepat yang dikelola swasta ini bisa diandalkan. Dibutuhkan waktu paling tidak satu jam agar sampai di Pulau Pramuka. Perjalanan selanjutnya Anda harus menyewa kapal motor atau menumpang kapal nelayan. Karena tidak ada kapal reguler atau terjadwal  menuju Sebira, begitu sebaliknya.

Kalau tidak terbiasa naik perahu kayu dengan kapasitas 20 orang, bisa jadi menjadi siksaan berat. Mabuk laut bisa saja menyerang, karena tubuh tak terbiasa terguncang ombak. Guncangan biasanya belum terasa kuat di awal perjalanan. Karena masih berada di perairan antar pulau saja. Tetapi sesudah melintasi gugusan pulau, gelombang akan semakin kuat.

Pemandangan Eksotis Di Puncak Mercusuar Sebira


Pulau Sebira mempunyai mercusuar tua yang menjadikannya ikon pulau tersebut. Menikmati suasana sore sambil menunggu matahari tenggelam bisa menjadi aktivitas menyenangkan. Anda bisa menyusuri tanggul untuk mencegah abrasi pantai. Tanggul ini berada di sebelah barat. Kalau tidak dibangun tanggul tersebut, diprediksi daratan Sebira akan lenyap.

Berada di pulau ini kurang berkesan, kalau tidak menaiki mercusuar yang dibangun Belanda pada tahun 1869. Tangga besinya memang terlihat sudah berkarat dimakan usia. Kondisi ini bisa saja menciutkan nyali Anda. Keindahan saat berada di puncak mercusuar sebira sangat sayang dilewatkan. Jadi tak perlu takut menaikinya. Menara pengeboran minyak di lepas pantai juga menjadi pemandangan, saat berada di titik tertinggi mercusuar.

Sebagian besar masyarakat Sebira menggantungkan hidupnya dari hasil tangkapan laut atau sebagai nelayan. Warga yang bermukim di pulau ini sebenarnya bukan penduduk asli. Tetapi merupakan pindahan dari pulau lainnya di kawasan Kepulauan Seribu.

Hantu Mercusuar Pulau Sebira


Di menara mercusuar setinggi 42 meter yang masih berdiri tegak di Pulau Ssbira sejak peninggalan kolonial Belanda, menyimpan certa angker. Mercusuar yang dibangun sejak tahun 1869 di masa pemerintahan Raja Willem III tersebut, ternyata menyimpan mitos mistis di dalamnya.

Konon, di Mercusuar yang usianya tergolong tua tersebut dihuni oleh satu keluarga asal Belanda yang kadang terlihat penampakannya baik di dalam maupun di sekitar Mercusuar.

Salah seorang penduduk Pulau Sebira, Ali (65) mengatakan, sangat sering ketika ada orang yang bukan penduduk asli Pulau Sabiri, didatangi salah satu dari empat penunggu saat mendekat ke menara Mercusuar itu.

“Kalau sama penduduk sini mah jarang banget ditemuin, tapi kalau sama orang asing mereka merasa keusik, makanya sering dijumpai,” ujar Ali di lokasi, Jumat (19/9/2014).

Menurut Ali, para penunggu berada di sekeliling mercusuar, seperti di depan atau dibelakang pintu masuk yang mengarah ke pantai, serta di depan pintu utama mercusuar, dan juga di dalam mercusuar, terutama saat menaiki anak tangga menuju puncak mercusuar.

“Waktu itu ada orang dari Jakarta kemari, dia penasaran pengen naik ke atas menjelang magrib,” kata Ali.

“Nah, waktu dia masuk ke dalam mercusuar katanya merinding dan sempat lihat ada sosok cewek di depan pintu belakang yang arah pantai. Dia bilang sih rambutnya pirang panjang dan mukanya mirip orang Belanda gitu,” jelas Ali melanjutkan ceritanya.

Namun, lanjut Ali, orang tersebut langsung lari dan urung menaiki mercusuar tersebut. “Pas sampai masjid, dia ketemu sama saya, saya bilang kenapa mas kok lari-larian? ‘Habis lihat setan pas dekat mercusuar!’,” pungkas Ali menirukan kata-kata orang itu yang nafasnya masih tersengal-sengal.

Anda mau mencoba bertemu dengan hantu bule itu? Silahkan mengunjungi pulau yang menurut pengunjung alamnya ‘masih perawan’ nan elok dan rupawan ini, pulau terpencil “Penjaga Utara”. Pulau Sebira, pulau paling luar dibagian utara dari Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar